photo by Devorelebeaumonstre
Wednesday, February 8, 2012
The Leather Satchel co. Giveaway.
Lets join The Leather Satchel co. Giveaway. by Devorelebeaumonstre ! Just go to this link , and done those simple things :D
Labels:
Giveaways
Sunday, February 5, 2012
Black Pitch; xXx Holic
currently listening @ Utada Hikaru - Sakura Drops
In the past, I've revealed some manga that i'd like to read in here. But i late to realized one of my favorite manga, xXx Holic by Clamp was completed. Back then when i was in high school, i look at it a glance and found something strange with it style of drawing. You can see people there was drawn too long, the proportions made them so tall. And i feel no desire to read it. But one day, somehow i'm captivated with details of laces, and dark vibe yet classy on the 1st cover of it. I'm curious. What story are they served with that dark essence? Moreover, in my country, the manga is labelled in "Adult", which means there will be a complex story, and more metaphor meaning. This post is including Spoiler, if you don't want spoiler so i recommend you to step back and go to this link for reading online.
The story begin with a high school boy named Kimihiro Watanuki who disturbed to see supernatural creature, he meets with Yuuko Ichihara, a witch who owns a wish-granting shop. Watanuki requests to have his ability to see spirits removed and, as payment, Yuuko hires him to work in the shop, resulting in various supernatural encounters. The story developed into valuable cases of people who wants to grant their wish. From each case, we can conclude moral things in it. The dark vibe of witchcraft things mixed up with old culture in Japan equals something interesting. All of the folklore, and the don'ts thing bringing up explanation that rarely we consider of.
Yuuko always said "There is no coincidence, and that every single action and decision is inevitable, because without them, other related events in the future could not happen". Watanuki little by little learns about witchcraft from each case, and suddenly realized that he didn't know why his parents died, and from whom he learnt to cook. All he remembered just the people who know the secret of his power. He acknowledge his power in dreams, he meets Doumeki's Grandfather who teach him to solve problems within dreaming. One day, Yuuko dissapear. And suddenly all of people who granted their wish, forgot about her. Full of sadness, Watanuki run to the shop, and suddenly all turns pitch black. He meets Yuuko, and she told him that this is the ends. The time that had been halted has merely begun to move once more, she should not even exist, should have been gone a long time ago, she was trapped within that halted time for the sake of two world of two futures. The choices has been made, and time has begun to move once more. She was afraid, before even Watanuki were even born, she was already dead. Watanuki cried and thinking that it is a dream, Yuuko ensure him that this is no dream. Watanuki insisted to granted Yuuko's wish, and the wish is for him to go on existing. He promised, and have a thought about if dreams can come true by wishing hard enough, he wants to meet her again and decided to stayed at the shop as long as it takes for her.
Times go ahead, Watanuki's power is growing stronger. He became the next owner of the shop, and granted people's wish by dreaming because he promised that won't leave the shop. And one day he had a dream about butterfly, which is Yuuko presence. In that dream, Yuuko bringing a cage with a bird inside, and opening the cage's gate, letting the bird fly away with the butterfly. This is a sign that Yuuko let Watanuki to leave the shop, since bird is Watanuki's sign. This dream is Yuuko's, and need a hundred years to appears.
More than 100 years is passed, he's not aging because not leaving the shop. He talked this dream with someone that I thought Doumeki at first, but since he said "You really do look just like him. Your great grandfather." i realized that he is Doumeki's great grandchild.
He decides to continue waiting for her, although he has become able to leave the shop if he wants to.
The gloomy ending makes my day full of sadness too. Watanuki was sick of pain of love, and unending time of waiting. Besides, Yuuko is dead. How long he will wait anymore?
This manga have 2 season of Anime too. However, the story is tied with Tsubasa Reservoir Chronicles. So it best to read it to knowing more the storyline. Actually Watanuki and Syaoran (in Tsubasa Reservoir) was one entity. Their parents dividing him into two entities who lived in two world, to make them keep existing. So if Watanuki died, Syaoran will be died too, and vice versa. Thus Yuuko once said that people are the same but just living in a different dimension. I wonder who is Sakura for Watanuki? Is that Yuuko probably his mother? Well, Clamp is really a great mangaka. :)
I'll bringing up Tsubasa Reservoir Chronicles review in the other post, but not until me done my final exam :) Still didn't complete to read it though. Am i an Otaku? Haha i don't think so, but i do like Japan and manga :D
There's no coincidence, what's left is Hitsuzen..
Cheers,
There's no coincidence, what's left is Hitsuzen..
Cheers,
Ande.
Saturday, February 4, 2012
Panti Jompo dan pelajaran yang tak ternilai.
currently listening @ Selena Gomez & The Scene - Love You Like a Love Song
Oke gue tau ini bakal jadi postingan yang panjang, but i'm sure it worth to read.
Selamat malam semuanya! haha Lagi lagi gue nulis blog pas malem minggu. I rarely have activity on saturday night, actually. And then, i just wanna tell you one of my experience not a long time ago..
Jadi, karena dapet tugas Character Building buat mengunjungi panti sosial buat ngasi bantuan, gue dan yang lain pun berangkat di hari yang cerah itu. Beberapa hari sebelumnya, temen gue uda survey di salah satu Panti Jompo daerah Jakarta Barat dan membuat surat izin berkunjung. Berbagai macem barang uda kita bawa. Mulai dari pampers, buah, beras, dan banyak lagi. Sesampainya disana, kita menuju Head Officenya buat minta izin masuk. Disambut sama oma kece judes (yang kayaknya ketua yayasan), dia pun mengecek surat izin dari kampus.
Surat izinnya pun simple, cuma ada keterangan nama, dan jurusan tiap anak. Enggak mendetail seperti surat izin observasi bikin thesis, ataupun penelitian lainnya. Karena bahkan dosen gue pun cuma bilang : "Kalian disana cuma membantu membahagiakan mereka aja, bahkan sepertinya tidak memerlukan surat izin. Karena kalian hanya menghibur dan mendengarkan cerita mereka."
Oma judes ini gak ngebolehin kami masuk, dengan alasan bahwa kami gak punya surat izin resmi seperti yg lainnya. Dia pun menunjukkan beberapa surat yang ditujukan buat Thesis dan sebagainya. Dia insisted melarang kami masuk. Gue mencoba menjelaskan dengan segala cara. Bahwa kehadiran kami disini bukannya untuk thesis, tapi cuma ditugaskan untuk memberi bantuan saja. Apa memberi bantuan adalah suatu kesalahan yang harus ditolak? Dia tetap bilang "Walaupun kalian cuma ingin membantu, tapi kami juga punya aturan. Kami tidak bisa membiarkan kalian beramai ramai masuk begitu saja. Kami juga memiliki jadwal.". What the hell. So arrogant.
Dengan penuh kesal, kami keluar dari panti tersebut dan mencoba mencari Panti Jompo lain disekitarnya. Selagi menunggu, gue liat ada pengunjung datang yang membawa mobil, dan mengeluarkan berdus dus mi instan dan beberapa karung beras. Mereka langsung dipersilahkan masuk dan disambut baik. Betapa bencinya gue melihat itu semua. Kenapa sih, niat baik orang malah dihalangi? Diskriminasi antara donatur kaya dan kami pelajar yang seadanya. Entah kenapa gue merasa benci banget. Benci banget.
Setelah gue nunggu lama, akhirnya gue berangkat ke Panti Jompo lain yang jaraknya lumayan. Itupun temen gue bolak balik jemput naik motor (karena motor cuma 2, sedangkan total manusia ada 11). Sampailah gue di Panti Jompo ini. Mungkin karena sepertinya panti ini dikelola pemerintah, vibe nya beda dari Panti Werdha barusan yang terkesan dispesialisasikan. Disini kami langsung disambut baik oleh pegawai berseragam safari dan dipersilahkan mengobrol dengan oma dan opa yang berada disana.
Kami berpencar. Gue dan temen temen mendatangi Opa bermata sipit yang sedang duduk dan hampir menyelesaikan makanannya. Ia terlihat lebih bugar diantara penghuni lain dan terkesan lebih ramah. Beliau bernama Opa Robert. Usut punya usut, beliau masih memiliki anak dan cucu. Bahkan ulangtahunnya kemarin dirayakan di restoran salah satu mall besar, beserta cucu dan menantunya. Refleks gue terheran heran. Bagaimana bisa seseorang yang masi keep in touch dengan keluarganya, tapi malah duduk sendirian disini.
Sungkan untuk bertanya langsung, gue pun bertanya tentang kesehatannya. Dan lama kelamaan ia bercerita kenapa ia bisa berada disana. Opa Robert mengalami struk dan sempat dirawat di rumah sakit beberapa minggu, sebelum ia ditempatkan di panti. Hebatnya, ia melawan penyakit struk yang dideritanya dengan selalu mencoba menggerakkan bagian yang lumpuh. Sulit, tapi dipaksakan. Dan sendirian. Tak terbayang bagaimana ia mencoba survive sendirian hingga akhirnya bisa berjalan lagi seperti sekarang. Gue bahagia mendengarnya, sekaligus benci. Ya, gue benci. Kemana saja sanak family nya selama ini? Begitu teganya memasukkan Kakeknya, Ayahnya yang telah membesarkan dan mendidik selama ini, ke panti jompo. Sendirian. Dan dapat tertawa tawa saat merayakan ulangtahun kakeknya. Apakah sangat mahal untuk membeli ranjang, dan memberi perhatian khusus pada seseorang yang telah merawatmu semenjak bernafas di dunia ini! What an insane!
Gue beranjak ke penghuni lain, disinilah gue bertemu dengan Eyang Sri, dia berasal dari Jogja. Dari cara bicaranya saja gue sudah mendengar sesuatu yang berbeda. Dia pintar. Ragu untuk bercerita, akhirnya ia luluh setelah beberapa lama berbincang. Harusnya saat ini ia masih meneruskan kelas studi S2 Elektronya di Trisakti, setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikan S1 di salah satu institut bandung. Dulu ayahnya adalah seorang Polisi, dalam didikannya, ia yang merasa sebagai warga negara yang telah membayar pajak berhak mendapatkan salah satu fasilitas pemerintah yaitu panti sosial. Ia memiliki pernikahan yang cukup harmonis, dikaruniai anak perempuan dan kemudian disusul dengan anak laki-laki. Bahkan ia sempat diberikan BMW oleh suaminya sebagai hadiah atas lahirnya anak laki laki. Anak perempuannya bersekolah di Tarakanita semenjak taman kanak hingga menengah. Ia selalu mengantar jemput anak gadisnya selama sekolah dengan mengendarai sendiri mobilnya. Hingga anaknya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di London. Setelah melakukan kunjungan beberapa kali, si anak gadis ini menjanjikan jika Eyang Sri sudah berumur 60 tahun nanti (bebas Visa setelah 60 tahun), akan diajak tinggal bersama di London.
Kenyataan berbalik dengan harapan. Sang gadis meneruskan S2 di London dan bertemu pangeran impian. Setelah menikah dengan warga negara asing tersebut, Eyang Sri berkunjung dan menemukan kejanggalan. Sang gadis telah berubah. Entah karena pengaruh suaminya atau apa, sempat ia mengatakan pada ibunya : "Mama kok minta upeti sama aku?". Betapa terpukulnya Eyang Sri mendengar perkataan anaknya. Semua janji manis sang anak hancur berantakan. Kemudian, sesampainya di Jakarta, anak laki-lakinya memukul Eyang Sri dengan besi stir mobil karena berdebat tentang suatu hal. Eyang Sri yang terpukul, terlintas untuk pergi dari rumah saat sedang melakukan rutinitas lari pagi. Ia tidak membawa uang sedikit pun. Ia berjalan dan terus berjalan. Bahkan kerabatnya pun sepertinya tidak menyetujui keberadaan Eyang Sri yang menumpang tinggal untuk sementara. Suaminya telah meninggal, ia tidak memiliki siapapun saat ini. Semua uang, tanah, rumah dan mobil dikuasai oleh anak anaknya. Ia tidak memegang harta sedikitpun. Sambil terus berjalan tanpa arah, ia berdoa pada Tuhan. Karena ia yakin Tuhan akan menolongnya. Akhirnya ia menemukan panti sosial ini, dan bergabung selama hampir 3 bulan.
Karena penasaran, gue bertanya, jika suatu hari nanti anaknya datang dan meminta ia untuk pulang, apakah ia bersedia atau tidak. Dengan keyakinan ia menjawab, "Untuk apa? Toh kalau nantinya saya akan dibuang lagi, maka lebih baik saya tinggal disini. Meskipun tidak layak, tapi akan lebih menyakitkan jika berada bersama orang seperti mereka."
Akhirnya gue dan temen temen pun pulang. Hari itu, gue menemukan pelajaran luar biasa yang gak bisa gue dapetin dari tempat kursus manapun. Pelajaran hidup. Langsung dari sumbernya. Gue bersyukur, betapa beruntungnya memiliki orangtua yang sangat menyayangi orangtuanya. Ini menjadi pelajaran mahal. Di satu sisi, Opa Robert, gue sangat menyayangkan sikap keluarganya. Mereka jelas jelas masih mampu. Dan seharusnya, memiliki kesadaran untuk merawat kakeknya sendiri. Bukannya gue gak mau Opa Robert ada di panti ini, tapi, menurut gue, masih banyak orang lain yang lebih membutuhkan, seperti Eyang Sri, disamping orang yang menitipkan anggota keluarganya disini. Gue gak bisa menebak konflik apa yang sebenarnya sedang dialami keluarga Eyang Sri hingga anak anaknya bertindak sedemikian rupa. Tapi satu hal yang gue tau, se-buruk buruknya orang tua, mereka tetap orang tua lo. Respect them.
Gue jadi inget salah satu cerita di The Kitchen Soup for kids, dimana ada seorang anak yang membuat list bayaran atas setiap tugas yang dibebankan, seperti menyapu, membereskan rumah dan sebagainya. Lalu sang ibu menuliskan di balik kertas itu;
Melahirkanmu : Gratis
Membersihkan kotoranmu saat bayi : Gratis
Menyusui dan memberi makanmu : Gratis
Membesarkanmu hingga saat ini : Gratis
Lalu sang anak pun tersenyum, dan menulis di kertasnya, LUNAS.
Kasih Ibu sepanjang masa. Dalam agama gue pun, menjawab pertanyaan orangtua dengan "Ah," saja sudah berdosa, apalagi bernada tinggi. Selalu berlemah lembut dan sopan lah kepada dua orangtuamu. Jangan menyakiti hatinya, karena bahkan kau tidak dapat membayangkan betapa sulitnya mereka membesarkanmu, dan melihatmu melepaskan segala ego tanpa pertimbangan.
Oh, dan satu lagi, gue menyarankan pada para istri untuk memiliki minimal satu rekening bank yang bahkan tidak seorang pun tahu bahwa kamu memilikinya. Just in case untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. :)
Always Love your Parents, no matter they are..
Always Love your Parents, no matter they are..
Cheers, Ande.
Subscribe to:
Posts (Atom)





